Mekar di Ketandan…

Kawasan Ketandan di Kecamatan Gondomanan (sekarang di belakang Toko Ramayana, Malioboro) merupakan cikal bakal etnis Tionghoa di Yogyakarta. Ketandan berasal dari kata tanda atau tondo. Tanda pada masa Yogyakarta 250 tahun lalu bahwa di sanalah orang Tionghoa bermukim.

Hingga kini, mayoritas warga Ketandan adalah orang Tionghoa (sekitar 70 persen). Sisanya ada Jawa, Banjar, dan campuran. Ada 263 keluarga, kata Ketua RW V, Ketandan, Ngupasan, Gondomanan, Tjundaka Prabawa.

Tjundaka merupakan generasi kedua yang tinggal di kawasan Suryatmajan, hanya puluhan meter di utara Ketandan. Istrinya generasi keempat warga Ketandan, yang kini dijejali toko-toko emas.

Berdasarkan penuturan warga, toko emas pertama di Ketandan berdiri awal 1950. Dulu, banyak penjual jamu dan kebutuhan sehari-hari. Sekarang, toko jamu tinggal satu, kata Tjundaka, yang juga Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Perhiasan Emas dan Permata Indonesia (apepiin1) DIY.

Ketandan sebagai cikal bakal etnis Tionghoa di Yogyakarta dibenarkan oleh dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Arief Akhyat. Mereka diberi hak khusus oleh Sultan Hamengku Buwono II berkembang di sana, sekitar 200 tahun silam. Mereka diminta membangun perekonomian Yogya bersama etnis India dan Arab, ujarnya.

Tahun 1800-an, Yogyakarta masih kota baru dengan perekonomian lemah. Apalagi terjadi sejumlah perang.

Penarik pajak
Di Ketandan, selain pedagang, juga bermukim petugas penarik pajak Tionghoa, yang menyerahkannya kepada keraton. Lalu, muncullah nama seperti Tan Jin Sing, salah satu kapiten China ternama yang diangkat sebagai Bupati Yogyakarta pada tahun 1813, saat HB III. Tak banyak orang Tionghoa yang tahu sejarah itu, terutama kaum mudanya, kata Tjundaka.

Ketiadaan atau minimnya informasi yang sulit diakses membuat sejumlah cerita beredar dari mulut ke mulut. Di antaranya, informasi yang menyebutkan bahwa Malioboro berkembang atas kreasi Tan Jin Sing.

Dari berbagai informasi yang ada, salah satu yang diyakini umum adalah Ketandan sebagai lokasi awal etnis Tionghoa bermukim. Menurut Arief, awalnya orang-orang Tionghoa saat itu banyak berdagang kebutuhan sehari-hari di kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Beringharjo.

Namun, tidak diketahui dengan pasti jenis dagangan yang banyak dijual. Paling mungkin adalah berjualan kebutuhan sehari-hari (toko kelontong).

Atas pertimbangan sejarah pula, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta digelar di Ketandan, sejak tahun 2006, bersamaan dengan perayaan Imlek.

Sumber: http://cetak.kompas.com/

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment